Mengapa Kita Sulit Berhenti Makan Snack?
Makan snack telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kebiasaan sehari-hari banyak orang. Berbagai alasan, mulai dari rasa lapar hingga keinginan untuk menikmati sesuatu yang renyah, mendorong kita untuk terus mengonsumsi makanan ini.
Baca juga: Timnas Indonesia U-23 Gagal Menang Melawan Laos di Kualifikasi Piala Asia U-23 2026
Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa ada faktor-faktor tertentu yang membuat kita sulit untuk berhenti mengonsumsinya. Ini berkaitan dengan bagaimana otak dan lingkungan kita berinteraksi dengan makanan.
Snack sering kali menawarkan kombinasi rasa yang sangat menggugah selera. Makanan seperti keripik, cokelat, dan permen biasanya dirancang untuk memicu rasa kenyang berkat kandungan gula dan lemak yang tinggi.
Ketika kita mengonsumsi snack ini, otak merespons dengan melepaskan dopamine, hormon yang berhubungan dengan perasaan senang. Hal ini menciptakan dorongan untuk terus makan demi mendapatkan lebih banyak 'penghargaan' dari makanan.
Baca juga: Penangkapan ‘Profesor R’ Terkait Aksi Demo Ricuh di Jakarta
Lingkungan sekitar memainkan peran besar dalam membentuk kebiasaan makan. Saat snack tersedia di rumah atau saat berkumpul dengan teman, impuls untuk mengonsumsi snack sering kali meningkat.
Kebiasaan ini umumnya terbangun dari aktivitas sosial. Mengemil sambil menonton film, misalnya, telah menjadi tradisi bagi banyak individu dan kelompok, membuat mereka lebih rentan untuk mengonsumsi lebih banyak snack.
Banyak individu menggunakan snack sebagai cara untuk menghadapi stres atau emosi negatif. Makanan yang manis atau berlemak sering kali menjadi pelarian dari perasaan tidak nyaman.
Sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal kesehatan menunjukkan bahwa ketika mengalami kecemasan atau kesedihan, makanan bisa memberikan kenyamanan sementara. Namun, ini sering kali berdampak negatif pada kebiasaan makan yang lebih besar.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: